, ,

Gelombang Penurunan Omzet Paksa 27% Pedagang Pasar Pagi Batu Tutup Lapak

oleh -206 Dilihat

Pasar Pagi Sepi Penjual, Hanya 800 Pedati Ekonomi yang Bertahan di Tengah Lesunya Daya Beli

Batu- Suasana sepi mulai menyapa lorong-lorong Pasar Pagi Batu. Dari total 1.097 pedagang yang tercatat, hanya sekitar 800 ‘pedati ekonomi’ yang masih setia membuka lapak dan berjuang mencari rezeki setiap harinya. Fakta pahit ini mengungkapkan bahwa 297 pedagang lainnya memilih mengibarkan bendera putih, tak lagi aktif berjualan. Gelombang penurunan omzet harian yang tak kunjung reda diduga menjadi penyebab utama banyaknya pedagang yang terpaksa gulung tikar.

Gelombang Penurunan Omzet Paksa 27% Pedagang Pasar Pagi Batu Tutup Lapak
Gelombang Penurunan Omzet Paksa 27% Pedagang Pasar Pagi Batu Tutup Lapak

Baca Juga : Indomaret Dan PZ Cussons Gelar Festival Posyandu, Rayakan HUT Ke-24 Kota Batu

Kondisi ini, menurut Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pasar Induk Among Tani, Gadis Dewi Primandhasari, adalah cerminan langsung dari melemahnya denyut nadi ekonomi nasional yang akhirnya menyasar ke kantong paling dasar: daya beli masyarakat. “Keluhan yang sama berulang kali kami dengar dari para pedagang, baik di pasar pagi maupun induk. Daya beli yang sangat lemah,” ujar Gadis, mengonfirmasi kondisi yang memprihatinkan ini.

Retribusi sebagai Barometer Kegiatan

Bagi Gadis, perempuan asal Blitar yang bertanggung jawab atas kelancaran pasar, tingkat keaktifan pedagang dapat diukur dengan jelas dari jumlah setoran retribusi harian. “Angkanya konsisten di kisaran 700 hingga 800 pedagang per hari yang membayar. Ini menjadi indikator nyata bahwa banyak yang memilih tidak berjualan,” jelasnya. Jelas, fenomena ini langsung berimbas pada capaian target retribusi pasar.

Menyikapi hal ini, Gadis tidak tinggal diam. Ia berencana untuk segera turun ke lapangan dan melakukan pendataan ulang serta identifikasi mendalam. “Kami tidak bisa serta-merta menyimpulkan semua yang nonaktif itu bangkrut. Ada beberapa kemungkinan yang harus dicek kebenarannya,” katanya. Beberapa dugaan sementara adalah para pedagang tersebut beralih ke tempat berjualan lain, atau mungkin sengaja mangkir dari kewajiban membayar retribusi.

Identifikasi ini juga menjadi langkah strategis untuk membuka kesempatan bagi para pedagang baru. “Dengan data yang akurat, kami bisa mengetahui lapak mana yang benar-benar lowong dan bisa diisi oleh pendatang baru, sehingga memutar kembali roda perekonomian di sini,” tambah Gadis.

Ancaman Tak Tercapainya Target dan PR Lama

Gadis menegaskan bahwa rendahnya partisipasi pedagang ini mengancam realisasi pendapatan retribusi pasar. Sistem pembayaran retribusi untuk pedagang pasar pagi bersifat harian dan fleksibel—hanya dibayar jika mereka berjualan. Hal ini berbeda dengan pedagang kios yang memiliki kewajiban tetap membayar retribusi bulanan, baik kiosnya beroperasi maupun tidak.

Selain masalah keaktifan pedagang, Gadis juga menyoroti PR lama yang kerap menjadi keluhan pembeli: jam operasional pasar yang tidak disiplin dan sering molor. Untuk menciptakan kepastian dan kenyamanan bagi pembeli dan pedagang, Gadis berencana menggelar pertemuan bersama. “Kami akan duduk bersama para pedagang untuk membuat kesepakatan baru yang disepakati bersama mengenai jam buka-tutup pasar. Kedisiplinan adalah kunci untuk membangun kepercayaan pembeli,” pungkasnya.

Harapannya, dengan langkah-langkah konkret ini, Pasar Pagi Batu dapat kembali berdenyut, tidak hanya sebagai pusat perbelanjaan, tetapi juga sebagai tulang punggung perekonomian ratusan keluarga yang menggantungkan hidupnya di sana.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.