Layar Kosong di SRMP 14 Kota Batu: Laptop Pembelajaran Tertahan, Proses Belajar Mengandalkan Kesabaran
Batu- Harapan untuk menyentuh layar laptop dan mengeksplorasi dunia digital yang sempat mengembang di hati para siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu, kini harus kembali dipendam. Janji penyaluran laptop dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI yang seharusnya menjadi penopang pembelajaran modern, sekali lagi molor dari jadwal. Padahal, Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, dengan tegas pernah menjanjikannya tidak lama lagi.

Baca Juga : Penipuan Sewa Vila Di Medsos Masih Merajalela
Dalam kunjungannya yang penuh harapan pada 8 September lalu, Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, berkomitmen untuk melengkapi sarana dan prasarana sekolah secara bertahap. Saat berdiri di tengah-tengah semangat belajar para siswa, ia secara spesifik menyebut bahwa pengiriman laptop akan dilakukan paling lambat akhir September 2023. Target itu kini tinggal menjadi kenangan dan coretan di kalender yang telah lewat.
“Kami tetap sabar menunggu realisasinya saja,” ujar Kepala SRMP 14 Kota Batu, Yulianah, dengan nada pasrah ketika dikonfirmasi mengenai keterlambatan ini. Yulianah membenarkan bahwa hingga detik ini, belum ada kejelasan maupun tanda-tanda pengiriman perangkat teknologi tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui alasan pasti di balik penundaan ini, namun menduga pemerintah pusat masih berkutat dalam proses pengadaan. “Kami tidak mendapat informasi yang jelas, yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu,” tambahnya.
Data Penyaluran dan Spesifikasi Menggoda yang Belum Jadi Nyata
Berdasarkan data yang tercatat dari Kemensos RI, sebanyak 9.000 unit laptop telah disalurkan pada tahap pertama beberapa waktu lalu. Sisa penyaluran, yang di dalamnya termasuk untuk SRMP 14 Kota Batu, dijanjikan akan tiba pada bulan Oktober ini. Namun, tengah bulan telah bergulir, janji itu masih mengambang.
Laptop yang dinantikan-nantikan oleh 150 siswa sekolah tersebut bukanlah perangkat sembarangan. Mereka dijanjikan akan menerima unit HP 240 14 inch G9 yang ditenagai prosesor Intel Core i5, sebuah spesifikasi yang cukup mumpuni untuk menunjang berbagai aplikasi pembelajaran digital. Dengan estimasi harga sekitar Rp 7,5 juta per unit, laptop ini diharapkan dapat membuka jendela ilmu pengetahuan yang lebih luas bagi para siswa.
Bergerak di Tengah Keterbatasan: Buku dan Semangat Menjadi Senjata
Di tengah ketidakpastian penyaluran, Yulianah menyatakan komitmennya untuk terus mengoptimalkan alat pembelajaran yang ada. Ini berarti, praktik belajar-mengajar di SRMP 14 Kota Batu untuk sementara waktu masih akan mengandalkan metode manual: buku tulis, pulpen, dan papan tulis.
“Kami memastikan bahwa ketiadaan laptop tidak akan mematahkan semangat belajar anak-anak. Proses pembelajaran akan tetap berjalan sesuai porsinya, meski dengan cara yang lebih konvensional,” tegas Yulianah. Pernyataannya ini adalah sebuah bentuk ketangguhan di tengah janji yang tertunda.
Sebagai catatan, tidak semua bantuan untuk sekolah ini yang terlambat. Sejak 19 September lalu, sejumlah sarana dan prasarana (sarpras) pendukung lainnya telah tiba dan didistribusikan. Bantuan nyata seperti kulkas, mesin fotokopi, dan tempat sampah kini telah digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari di sekolah.
Namun, kemoloran laptop terasa lebih menyakitkan karena rencananya, penyalurannya akan berbarengan dengan kedatangan Interactive Flat Panel atau papan tulis pintar.





