Gugurnya Ratu Malang: Cuaca Ekstrem Ancam Panen Apel Kota Batu
Berita Batu- yang kerap dijuluki sebagai Surga Apple Jawa, kembali dirundung duka. Para petani penghasil buah ikonik ini kembali menghadapi ujian berat. Tantangan klasik seperti perubahan iklim dan degradasi tanah kini diperparah oleh serangan cuaca ekstrem yang tak menentu, yang secara nyata menyusutkan hasil panen dan meredupkan harapan.

Baca Juga : POBSI Kota Batu Galakkan Pelatihan Biliar Artistik Pasca Kunjungan Florian “Venom” Kohler
Dampak Nyata: Angin dan Hujan yang Merontokkan Harapan
Bukti dari krisis ini terlihat dari pengakuan para petani di lapangan. Suliyono, Ketua Kelompok Tani Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, mengeluhkan hasil panen yang merosot tajam. Pada Agustus lalu, ia hanya mampu memanen 1,2 ton apel dari lahannya. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang masih bisa menyentuh 1,5 ton.
“Ini semua berawal dari cuaca ekstrem yang sudah terjadi sejak April lalu,” ujar Suliyono dengan nada prihatin. Ia menjelaskan bahwa hujan lebat yang disertai angin kencang telah merontokkan banyak bunga apel yang sedang mekar pada tahap awal. “Banyak bunga yang gugur dan gagal berkembang menjadi buah. Yang tersisa pun tidak banyak,” terangnya.
Yang memilukan, kondisi ini nyaris dialami secara merata oleh seluruh petani apel di kawasan tersebut. Lahan seluas 2.500 meter persegi, yang dahulu pada periode 2012-2015 bisa menghasilkan lebih dari 10 ton apel, kini rata-rata hanya sanggup menghasilkan 1 hingga 1,3 ton saja—sebuah penurunan produktivitas yang sangat signifikan.
Analisis Ahli: Sebuah Krisis yang Multidimensi
Merespons hal ini, Kepala Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu, Retno Indahwati, mengakui bahwa tantangan yang dihadapi petani kian kompleks. Meski pendataan lengkap masih berlangsung dan laporan resmi baru akan dirilis pada Oktober mendatang, Retno melihat ada beberapa faktor yang berkelindan.
“Memang, cuaca ekstrem adalah pukulan utama tahun ini. Namun, ancaman serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) juga selalu mengintai,” jelas alumnus Universitas Brawijaya tersebut. Selain itu, ia juga menyoroti fenomena alih fungsi lahan yang masif. Banyak petani yang memilih mengurangi luas lahan produksinya untuk beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan, menyewakan, atau bahkan menjual tanahnya.
Biaya operasional yang membengkak juga menjadi pekerjaan rumah (PR) besar. Retno menyebutkan, sekali merawat kebun, seorang petani bisa mengeluarkan biaya mulai dari Rp 40 juta hingga Rp 100 juta, tergantung luas lahan. Biaya sebesar itu sangat kontras dengan harga jual apel di tingkat petani yang dianggap sudah cukup tinggi jika mencapai Rp 10.000 per kilogram.
Sebentar Lagi Musim Panen: Di Balik Awan Gelap, Ada Cerah yang Tersisa
Di tengah kabar suram ini, secercah harapan ternyata masih tumbuh. Utomo, seorang petani apel dari Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, menyimpan optimisme untuk panen periode berikutnya. Ia mengamati bahwa proses pembuahan pada bunganya berjalan cukup lancar.
“Surga Apple yang gugur mulai berkurang,” katanya penuh harap. Ia menduga, cuaca cerah dan cenderung panas belakangan ini menjadi faktor pendukung yang baik. Dari delapan kebun miliknya seluas total 1.900 meter persegi, satu kebun telah menyelesaikan masa pembuahan dan terlihat bakal buah muda yang sehat.
Utomo memprediksi ia bisa memanen 3 hingga 4 ton apel dari lahannya. Namun, optimisme ini tidak lantas membuatnya lengah. Ia tetap waspada dan melakukan perawatan intensif untuk mencegah serangan OPT di musim hujan. Racikan khusus pupuk organik cair buatannya yang dicampur dengan pupuk dan obat kimia lain ia aplikasikan secara rutin.





